Aku berusaha untuk tidak mengemis pada manusia. Karena ia sama denganku. Aku selalu berujar pada diriku, "Cukup hanya pada Allah kau menghambakan diri, jangan pada manusia. Karena mereka tak punya kuasa atasmu. Yakinilah Allah takkan mengecewakanmu seperti halnya mereka mengecewakanmu"
Pernahkah kau terluka di penghujung harap. Tersayat saat meniti asa yang kian dekat. Jatuh pada lubang kelam, ketika sinar bahagia kian mendekap erat. Aku pernah. Dan itu teramat sakit. Pilu tiada bertepi. Seakan bumi menghantammu keras dari semua sisi. Dan kau tak mampu berlari.
Itulah buah dari usaha menggantungkan harap pada zat selain Allah. Sebuah khilaf yang terbentuk saat cinta membutakan hati. Merangkai harapan ketika jiwa masih saja tak berani mengagungkan kuasaNya. Meruntuhkan semua benteng kepercayaan diri...
Allah, zat yang tak pernah memberikan kekecewaan. Dzat yang tak pernah melupakan. Dzat yang sebenarnya tidak pernah terlambat untuk membahagiakan. Hanya pada Rabb pemilik jiwa, tempat kita menggantung harap, tempat kita menjalin kasih. Satu cinta yang besar untuk ummatNya. Tak kan luput satupun dari penglihatanNya. Bahkan niat yang belum terucap, mampu didengarNya. Kita tak pernah tau kapan bahagia kan datang menjemput. Yang pasti Allah tau, itulah waktu yang tepat untuk meraih semua sukacita dalam kasihNya....
Kamis, 05 Januari 2017
Senin, 05 Desember 2016
#Aku
Kembali ku belajar ntuk menata serpihan yang beserakan.
Mengumpul, merapikan, menyusun puing-puing, pecahan duka yang tercabik oleh derasnya gucuran hujan air mata.
Krisis kepercayaan itu timbul karena dusta yang berulang. Salah yang berkali-kali mencoba membayangi langkah. Kata maaf yang tak lagi memiliki nilai.
Mempengaruhi usaha ku ntuk membangun kembali keyakinanku.
Belajar ntuk kembali bangkit dari jatuh ku, merangkak menatih setiap gerik. Belajar ntuk memulihkan krisis yang mulai semakin pelik. Kunci nya mulai berayun tergantung setengah masuk. Sesayup angin berhembus,..., kondisinya entah kan memilih jatuh atau berusaha ada pada tempat semula.
Yakin ku, dan percaya ku membengkak ingin pecah. Aku ingin pulihkan. Masih mencoba. Dan aku, trus berusaha. Aku belajar ntuk kembali kuat. Selayaknya aku....
Mengumpul, merapikan, menyusun puing-puing, pecahan duka yang tercabik oleh derasnya gucuran hujan air mata.
Krisis kepercayaan itu timbul karena dusta yang berulang. Salah yang berkali-kali mencoba membayangi langkah. Kata maaf yang tak lagi memiliki nilai.
Mempengaruhi usaha ku ntuk membangun kembali keyakinanku.
Belajar ntuk kembali bangkit dari jatuh ku, merangkak menatih setiap gerik. Belajar ntuk memulihkan krisis yang mulai semakin pelik. Kunci nya mulai berayun tergantung setengah masuk. Sesayup angin berhembus,..., kondisinya entah kan memilih jatuh atau berusaha ada pada tempat semula.
Yakin ku, dan percaya ku membengkak ingin pecah. Aku ingin pulihkan. Masih mencoba. Dan aku, trus berusaha. Aku belajar ntuk kembali kuat. Selayaknya aku....
Kamis, 17 November 2016
*****
.......
Aku merindu, namun tak tau pada siapa rasa ini menuju.
Ku ingin sekali berbagi, ingin menangis lepaskan luka ku, ingin tertawa ceritakan bahagiaku.
Aku benar-benar merindu....
Dia yang selalu ada dalam khayalku. Tak sekalipun ku bisa bertegur sapa. Ia sembunyi pada ilusi ku semata.
Setiap kali luka ku datang, dia membayangi aku ntuk mengunjunginya. Memintaku untuk selalu membagi kisahku. Tapi di manakah ku bisa menemuinya??
Sebuah tanya yang tak ada jawabnya.
Setiap bahagiaku memberi warna, sekilas senyum tipis pun menghiasi wajahnya. Turut ikhlas menerima suka ku. Turut bersorak saat buncahan bahagia mengisi hari ku. Dan sesekali mengingatkan ku ntuk terus menapak.
Lagi, ku hanya bisa melihatnya dalam ilusi. Tak sekalipun ia utuh dihadapku.
Sedihku mengulang, sepiku memuncak, dan aku ingin keramaian dalam suaranya, ku ingin disampingnya, meminjam bahunya, genggam erat tangannya, dengarkan kata-kata yang menenangkan dari lisannya. Semua itu, beri ku kekuatan, menyejukkan pikiran, mendamaikan kemelut hati yang gelisah.
Hanyakah semua itu impian kosong belaka....?
Bermimpi kan jadi nyata.
Datanglah dalam duniaku. Wujudkan rupamu. Isi hariku. Jangan biarkan ku terlalu lama merindu. Rindu yang teramat pilu. Yang kian lama terus menyiksa batinku.
Aku merindu, namun tak tau pada siapa rasa ini menuju.
Ku ingin sekali berbagi, ingin menangis lepaskan luka ku, ingin tertawa ceritakan bahagiaku.
Aku benar-benar merindu....
Dia yang selalu ada dalam khayalku. Tak sekalipun ku bisa bertegur sapa. Ia sembunyi pada ilusi ku semata.
Setiap kali luka ku datang, dia membayangi aku ntuk mengunjunginya. Memintaku untuk selalu membagi kisahku. Tapi di manakah ku bisa menemuinya??
Sebuah tanya yang tak ada jawabnya.
Setiap bahagiaku memberi warna, sekilas senyum tipis pun menghiasi wajahnya. Turut ikhlas menerima suka ku. Turut bersorak saat buncahan bahagia mengisi hari ku. Dan sesekali mengingatkan ku ntuk terus menapak.
Lagi, ku hanya bisa melihatnya dalam ilusi. Tak sekalipun ia utuh dihadapku.
Sedihku mengulang, sepiku memuncak, dan aku ingin keramaian dalam suaranya, ku ingin disampingnya, meminjam bahunya, genggam erat tangannya, dengarkan kata-kata yang menenangkan dari lisannya. Semua itu, beri ku kekuatan, menyejukkan pikiran, mendamaikan kemelut hati yang gelisah.
Hanyakah semua itu impian kosong belaka....?
Bermimpi kan jadi nyata.
Datanglah dalam duniaku. Wujudkan rupamu. Isi hariku. Jangan biarkan ku terlalu lama merindu. Rindu yang teramat pilu. Yang kian lama terus menyiksa batinku.
..........
Aku mungkin lelah. Lelah menjawab semua tanya, lelah menghadapi ketimpangan, kesenjangan. Lelah diperbandingkan, lelah setiap kali mendengar lisan mereka berujar. Pilih, cocok, tidak, buang, ini bagus, itu jelek. Sebaiknya begini, begitu. Dan lainnya.
Jika aku kaca, tak hanya retak yang tampak pada rupaku. Sekali sentuh saja meski lembut, akan meruntuhkan semua upayaku bertahan. Hanya butuh sedikit colekan dan Prank...., hancur sudah tak berbentuk.
Hati ini pun bisa berbelok, sekukuh apapun aku bertahan, saat tekanan begitu kuat berhembus, perlahan ia kan mengalihkan arah. Aku masih berusaha kuat. Namun jiwa tak sanggup lagi melawan. Bagaimana ku harus bersikap....
Aku benar-benar letih, ku butuh waktu ntuk menyendiri. Jauh dari keriuhan tak bertepi....
Jika aku kaca, tak hanya retak yang tampak pada rupaku. Sekali sentuh saja meski lembut, akan meruntuhkan semua upayaku bertahan. Hanya butuh sedikit colekan dan Prank...., hancur sudah tak berbentuk.
Hati ini pun bisa berbelok, sekukuh apapun aku bertahan, saat tekanan begitu kuat berhembus, perlahan ia kan mengalihkan arah. Aku masih berusaha kuat. Namun jiwa tak sanggup lagi melawan. Bagaimana ku harus bersikap....
Aku benar-benar letih, ku butuh waktu ntuk menyendiri. Jauh dari keriuhan tak bertepi....
Senin, 14 November 2016
2 Sisi
Memang bukan sekedar perbedaan yang menyebabkan retak. Namun tidak cukup jika hanya kesamaan untuk menyatukan. Bahkan dalam beda kita dapat temukan liku pertualangan. Bersama perbedaan jua kita jatuh dalam jebakan. Ranjau tersembunyi yang menakutkan.
Jangan pula berharap kau kan temukan kenyamanan berlimpah, jika hanya bermodal kata sama semata. Dia pun miliki teka-teki berbeda. Mencuri ketika kau lengah. Mengambil saat kau lupa. Hancur dalam bentuk tak terduga.
Tanpa beda kita tak pernah bisa saling menyapa. Dengan sama kita bisa saling mengisi.
Perbedaan dan kesamaan adalah dua sisi mata uang, tak bisa dipisah. Meski tak pernah saling hadap, namun tak pula saling meninggalkan.
Tak mungkin ada kata cukup dalam merenda kisah. Semua kan jadi utuh saat kau tau apa yang kau butuh, tanpa harus ada dibunuh, tuk mengisi yang kosong menjadi penuh.
01.06 WIB
Senin dini hari, 14/11/16
Jangan pula berharap kau kan temukan kenyamanan berlimpah, jika hanya bermodal kata sama semata. Dia pun miliki teka-teki berbeda. Mencuri ketika kau lengah. Mengambil saat kau lupa. Hancur dalam bentuk tak terduga.
Tanpa beda kita tak pernah bisa saling menyapa. Dengan sama kita bisa saling mengisi.
Perbedaan dan kesamaan adalah dua sisi mata uang, tak bisa dipisah. Meski tak pernah saling hadap, namun tak pula saling meninggalkan.
Tak mungkin ada kata cukup dalam merenda kisah. Semua kan jadi utuh saat kau tau apa yang kau butuh, tanpa harus ada dibunuh, tuk mengisi yang kosong menjadi penuh.
01.06 WIB
Senin dini hari, 14/11/16
No Title #2
Sekian masa berlalu. Angin dan udara menyatu dalam kerinduanku. Ombak bergejolak saat memikirkan kau dan aku berharap jadi satu. Memecah diujung jemari kakiku, kelabu sekejap membayangi mataku.
Aku... Terkesima akan pesona jingga sore ini. Perlahan kisah lama kembali sebagai nyanyian senja. Sesayup menitipkan pesan. Ia kan datang menjelang malam. Mengingatkan ku akan mimpi yang berkelanjutan.
Aku..., berdiri dalam diam. Memaku dalam sendiri. Berusaha membuka memori. Membalik kembali lembar lusuh dalam ingatan. Kemudian menjelma sebagai wujud tanya. Mungkinkah ia kembali bercerita?
Hanya saja, aku tak siap menerima. Akankah menjadi sama atau kan jadi suatu berita yang berbeda.
No title....
(.................)
Senin dini hari 14/11/16
00.23 wib
Aku... Terkesima akan pesona jingga sore ini. Perlahan kisah lama kembali sebagai nyanyian senja. Sesayup menitipkan pesan. Ia kan datang menjelang malam. Mengingatkan ku akan mimpi yang berkelanjutan.
Aku..., berdiri dalam diam. Memaku dalam sendiri. Berusaha membuka memori. Membalik kembali lembar lusuh dalam ingatan. Kemudian menjelma sebagai wujud tanya. Mungkinkah ia kembali bercerita?
Hanya saja, aku tak siap menerima. Akankah menjadi sama atau kan jadi suatu berita yang berbeda.
No title....
(.................)
Senin dini hari 14/11/16
00.23 wib
Jumat, 11 November 2016
Mentariku
Pagi mentariku...
Senyummu berikan ku semangat menggebu.
Setiap kali ku buka mata, sinarmu langsung hangatkan tubuh ku.
Sekian banyak syukur ku ucap. Pencipta tlah hadirkan dirimu dalam setiap langkahku. Menerangi celah-celah sepi yang lalu. Membawakanku kebahagiaan dalam jalani cerita baru.
Ku tak pernah tau, kapan tepatnya aku merasa sangat membutuhkan mu. Aku slalu saja merindukan sinarmu yang menghangatkan. Senyuman yang lembut menyapa. Serta kenyaman senja yang mendamaikan.
Semua itu memberikan ku seribu makna.
Meski malam menyembunyikan mu. Aku tau, esok kan membawamu kembali padaku. Awan hitampun takkan sanggup menyimpanmu terlalu lama. Cahayamu begitu terang, kepekatan langit tak mampu membuatmu tenggelam. Kemilaumu kan segera menerangiku.
Terkadang kau bingkiskan cahaya pelangi nan indah yang terbias bersama rintik hujan. Sesaat lainnya, kau senandungkan gemuruh dalam kebisuan. Entah itu kemarahan atau hanya sapaan. Aku tetap menikmatinya dengan senyum. Karena ku tau kan selalu ada sentuhan lembut sinar mu setelahnya.
Aku, tak ingin terlalu tamak dengan pesonamu. Berbagilah dengan semesta. Aku pun kan rasakan bahagia.
Tapi...
Kiaskan pada semua. Bahwa cintamu hanyalah milikku...
Mentariku.... 🌞
Senyummu berikan ku semangat menggebu.
Setiap kali ku buka mata, sinarmu langsung hangatkan tubuh ku.
Sekian banyak syukur ku ucap. Pencipta tlah hadirkan dirimu dalam setiap langkahku. Menerangi celah-celah sepi yang lalu. Membawakanku kebahagiaan dalam jalani cerita baru.
Ku tak pernah tau, kapan tepatnya aku merasa sangat membutuhkan mu. Aku slalu saja merindukan sinarmu yang menghangatkan. Senyuman yang lembut menyapa. Serta kenyaman senja yang mendamaikan.
Semua itu memberikan ku seribu makna.
Meski malam menyembunyikan mu. Aku tau, esok kan membawamu kembali padaku. Awan hitampun takkan sanggup menyimpanmu terlalu lama. Cahayamu begitu terang, kepekatan langit tak mampu membuatmu tenggelam. Kemilaumu kan segera menerangiku.
Terkadang kau bingkiskan cahaya pelangi nan indah yang terbias bersama rintik hujan. Sesaat lainnya, kau senandungkan gemuruh dalam kebisuan. Entah itu kemarahan atau hanya sapaan. Aku tetap menikmatinya dengan senyum. Karena ku tau kan selalu ada sentuhan lembut sinar mu setelahnya.
Aku, tak ingin terlalu tamak dengan pesonamu. Berbagilah dengan semesta. Aku pun kan rasakan bahagia.
Tapi...
Kiaskan pada semua. Bahwa cintamu hanyalah milikku...
Mentariku.... 🌞
Langganan:
Postingan (Atom)